Selasa, 07 November 2017

Perbandingan antara Jurnal 1 dan 2




(Jurnal 1) KNOWLEDGE CONVERSION PADA PROSES PERENCANAAN PROYEK DI PT. LEN RAILWAY SYSTEM
UNTUK STANDARDISASI PROSES DENGAN METODE SECI
Dan
(Jurnal 2) RENDEMEN DAN KOMPOSISI MINYAK ATSIRI DAUN KI LEMO (Litsea cubeba) DARI GUNUNG PAPANDAYAN, KAITANNYA DENGAN VARIASI TIPE DAN FAKTOR-FAKTOR HABITAT
 

Dibandingkan Oleh :
Ahyar Lazva Ramdani
3ID06
30415381


Jurnal 1
Jurnal 2
1.    Latar Belakang
Membahas tentang perindustrian mengenai standar proses yang belum dimiliki oleh PT LEN adalah proses perencanaan proyek, eksekusi proyek dan pengendalian proyek, diputuskan untuk melakukan pembuatan standar pada proses perencanaan.
Membahas tentang pertanian yang yang meneliti tentang rendemen dan komposisi dari minyak atsiri ki lemo berdasarkan 4 tipe habitat
2.    Metode Penelitian
1.    a. Socialization
2.    b. Externalization
3.    c. Combination
4.    d. Pemilihan Kriteria Best Prantice
5.    e. Internalization
Metode yang digunakan adalah multivariate analysis of variance (MANOVA) digunakan untuk menguji hubungan antara tipe habitat dan kandungan minyak atsiri
3.    Hasil dan Pembahasan
Hasil dan pembahasan yang dibahas pada jurnal ini adalah mengenai metode best prantice yang menghasilkan rekomendasi-rekomendasi mengenai proses standardisasi dengan metode seci.
Hasil dan pembahasan yang terdapat dari jurnal ini adalah membahas hasil dari penelitian rendemen dan komposisi menggunakan 4 tipe habitat.
4.    Kasimpulan dan Saran
Kesimpulannya adalah dengan menggunakan metode best prantice PT LEN Railway menemukan 5 sistem terpilihlah best prantice
Kesimpulan yang dapat diambil adalah mengetahui rendemen dan juga komposisi yang terdapat dala minyak atsiri ki lemo. Sarannya adalah untuk penelitian selanjutnya diperlukan mengetahui kadar minyak atsiri dan penggunaan sampel dalam jumlah yang lebih besar untuk skala produksi agar diperoleh hasil yang lebih teliti.

RENDEMEN DAN KOMPOSISI MINYAK ATSIRI DAUN KI LEMO (Litsea cubeba) DARI GUNUNG PAPANDAYAN, KAITANNYA DENGAN VARIASI TIPE DAN FAKTOR-FAKTOR HABITAT






Ichsan Suwandhi1)*, Cecep Kusmana2), Ani Suryani3), Tatang Tiryana4)
1)Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung
Jl. Ganesha No. 10 Bandung, Jawa Barat, 40132
E-mail: ichsan@sith.itb.ac.id
2)Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB Bogor
3)Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB Bogor
4)Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB Bogor
 

Perangkum :
Ahyar Lazva Ramdani
3ID06
30415381

1.    Latar Belakang
Latar belakang yang diambil dari jurnal ini adalah begitu banyak tanaman di negara indonesia salah satunya adalah tanaman yang bernama Litsea cubeba atau nama lainnya ki lemo yang berasal dari famili  Lauraceae. Masalah yang menjadikan latar belakang dari jurnal ini adalah karena pohon ini dikenal sebagai penghasil minyak atsiri pontensial yang digunakan untuk industri-industri farmasi dan kosmetika, sabun, penyegar ruangan dan industri pangan. Permasalahan pokoknya adalah masih sangat terbatasnya dukungan peneliatian bidang ekologi tanaman ini terutama terkait karakteristik habitat yang memberikan konstribusi terhadap kandungan minyak atsiri terbaik atau tertinggi baijk kuantitas maupun kualitasnya, budidaya tanaman baik dalam skala kecil maupun besar belum dilakukan yang menyebabkan indonesia belum menjadi negara produsen minyak atsiri maupun produk-produk berbahan baku dari tanaman ini. Maka dari itu penulis penulis jurnal melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui variasi rendemen dan komposisi minyak ki lemo dari bagian daun pada empat tipe habitat berbeda, untuk menguji hubungan antara tipe habitat dan kandungan minyak atsiri, dan menentukan faktor-faktor biofisik yang berpengaruh terhadap produksi minyak atsiri.

2.    Bahan dan Metode
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah mengambil sampel dari 4 habitat, yaitu  rumpang (areal terbuka bekas pohon tumbang),  areal bekas perambahan,  areal bekas kebakaran dan  areal bekas sapuan abu vulkanik letusan gunung berapi. Metode yang di gunakan adalah dengan mengambil sampel daun salah satu pohon dewasa, dengan survey dan eksplorasi dengan menempatkan plot-plot pada setiap habitat untuk memperoleh data-data biofisik, dilanjutkan dengan pengujian di laboratorium untuk memperoleh minyak atsiri.
Pengujian secara statistik menggunakan multivariate analysis of variance (MANOVA) digunakan untuk menguji hubungan antara tipe habitat dan kandungan minyak atsiri, dilanjutkan dengan penentuan faktor-faktor biofisik yang berpengaruh terhadap rendemen dan komposisi senyawa menggunakan analisis regresi ganda.

3.    Hasil dan Pembahasan
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah  hasil destilasi terhadapat sampel daun dari empat tipa habitat, diperoleh minyak ki lemo dengan niali yang bervariasi. Hasil rendemen minyak atsiri ki lemo menunjukkan rata rata 3,52% - 7,48% yang dihasilkan dari 2 kali proses destilasi. Secara ekologis diketahui bahwa tipe habitat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen minyak atsiri, tetapi tidak demikian dengan komposisi kimia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat 7 faktor habitat yang berpengaruh terhadap rendemen dan komposisi senyawa minyak atsiri, 4 faktor berpengaruh terhadap rendemen (kelembapan udara, intensitas cahaya, lereng dan rasio CN) dan 3 faktor terhadap komposisi senyawa (kapasitas tukar kation (KTK), porsi liat tanah dan volume tajuk).
Tabel 1. Hasil perhitungan kadar air sampel dan destilasi minyak ki lemo dari empat tipe habitat.


4.    Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan yang dapat diambil dari jurnal ini adalah dilihat dari table diatas dapat disimpulkan bahwa rendemen minyak atsiri yang dihasilkan bervariasi antar tipe habitat (rata-rata 3,52-7,48%), areal bekas kebakaran dan bekas perambahan menghasilkan rendemen tertinggi, sedangkan areal bekas sapuan abu vulkanik menghasilkan rendemen terendah. Bila ditinjau berdasarkan masing-masing lokasi, rendemen tertinggi diperoleh dari lokasi H-04 (areal bekas kebakaran) sebesar 9,33% dan H-13 (areal bekas perambahan) sebesar 9,25%, sedangkan hasil terendah diperoleh dari H-16 sebesar 2,76% (areal bekas sapuan abu vulkanik). Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat 7 faktor habitat yang berpengaruh terhadap rendemen dan komposisi senyawa minyak atsiri, 4 faktor berpengaruh terhadap rendemen (kelembapan udara, intensitas cahaya, lereng dan rasio CN) dan 3 faktor terhadap komposisi senyawa (kapasitas tukar kation (KTK), porsi liat tanah dan volume tajuk).
     Saran yang diperoleh adalah untuk penelitian selanjutnya diperlukan mengetahui kadar minyak atsiri dan penggunaan sampel dalam jumlah yang lebih besar untuk skala produksi agar diperoleh hasil yang lebih teliti.
Sumber : 
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jurnaltin/article/view/9122/7172.

Selasa, 10 Oktober 2017

KNOWLEDGE CONVERSION PADA PROSES PERENCANAAN PROYEK DI PT. LEN RAILWAY SYSTEM UNTUK STANDARDISASI PROSES DENGAN METODE SECI





KNOWLEDGE CONVERSION PADA PROSES PERENCANAAN PROYEK DI PT. LEN RAILWAY SYSTEM
UNTUK STANDARDISASI PROSES DENGAN METODE SECI

Atikah Sayyidatu Nisaa, Amelia Kurniawati, Devi Pratami
Program Studi Teknik Industri Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung
atikahsayyidatunisaa@yahoo.com, Amelia.kurniawati@gmail.com, pratami.devi@gmail.cm
J@TI Undip, Vol VIII, No 1, Januari 2013
PERANGKUM :
Ahyar Lazva Ramdani
30415381
3ID06

1.    Latar Belakang
PT LEN Industri (Persero) yang merupakan salah satu badan uasaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang elektronik. Namun pada saat ini PT LEN bergerak juga dibidang Railway System yang dikenal dengan produk persinyalan kereta api. begitu kuatnya SDM yang ada pada PT LEN bisnis LEN sekarang terdiri dari Railway System, Navigation System, Renewable Energy, Telecommunication, Control System dan Defense Electronics. Akan tetapi, tidak adanya standar proses pada seluruh aktivitas untuk pengerjaan proyek, pelaku proyek hanya mengikuti kebiasaan (cara yang sudah biasa dilakukan) sehingga hasil yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan mana yang digunakan. Kebiasaan yang dilakukan oleh pelaku proyek pada PT LEN Railway System dimungkinkan berbeda-beda, dari cara yang berbeda-beda tersebut terdapat best practice. Untuk manajer-manajer proyek yang sering menangani proyek serupa, namun hal ini menjadi masalah apabila terdapat pekerja baru pada proyek tersebut. Pekerja baru tersebut belum memiliki kemampuan dan pengalaman penanganan proyek-proyek tersebut. Standar proses yang belum dimiliki oleh PT LEN adalah proses perencanaan proyek, eksekusi proyek dan pengendalian proyek, diputuskan untuk melakukan pembuatan standar pada proses perencanaan.
2.    Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah :
1.    Socialization
Merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk menangkap pemahaman atau pengetahuan yang dimilki oleh para pelaku proyek (dalam penelitian ini adalah para pekerja PT LEN Railway System) mengenai proses perencanaan proyek yang masih berupa pengetahuan tacit dengan cara eksplorasi data.
2.    Externalization
Tahap ini merupakan tahap lanjutan dari tahap sosialization dimana hasil dari ekplorasi data dari tahap awal di eksternalisasi menjadi suatu proses bisnis kegiatan  perencanaan proyek di PT LEN Railway Sustem.
3.    Combination
Tahap selanjutnya adalah tahan combination dimana tahap ini dilakukan untuk pemilihan best practice proses perencanaan proyek yang ada di PT LEN Railway system dari prose bisnin yang telah dibuat.
4.    Pemilihan Kriteria Best Prantice
Dilakukan dengan metode factor rating yang didapat dari AHP. Bobot kriterianya didapat dari penyebaran kuesioner AHP dan responden yang diambil adalah pelaku proyek dari tiap divisi dan lama bekerja minimal 2 tahun dan untuk project manager minimal sudah menangani 5 proyek.
5.    Internalization
Tahap selanjutnya adalah proses konversi pengetahuan dari pentuk eksplisit pengetahuan yang berupa best practice yang di dapat dari taham combination, untuk dijadikan bentuk pengathuan tacit.
3.    Hasil dan Rekomendasi
Hasil dari pemilihan best practice yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Delphi akan dibuat sebuah SOP. Sedangkany, perhitungan untuk bonot dari tiap kriteria menggunakan metode AHP. Hasil dari kombinasi akan dijadika SOP yang akan di ajukan ke PT LEN Railway System. Rekomendasi-rekomendasi yang diberikan adalah :
1.    Menyediakan sumber daya yang hali dalam pembuatan WBS agar dapat dilakukan dengan tepat sehingga WBS yang dihasilkan pun tepat.
2.    Memberikan pelatihan sertifikasi PMBOK yang dapat menunjang kelancaran pengerjaan kegiatan perencanaan proyek.
3.    melakukan pembaruan pengetahuan dan kemampuan para pelaku proyek dengan mebuat divisi knowledge management agar dalam mentranfer pengetahuan dapat terencana dan terorganisir dengan baik dan membuat pelaku proyek dapat mengikuti teknolo yang ada di jaman sekarang.
4.    Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan mengidentifikasi pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit pada proses proyek PT LEN Railway System terpilihlah best practice sebagai berikut :
1.    Best practice proses pembuatan WBS merupakan
2.    Best practice proses penentuan jadwal proyek
3.    Best practice proses penentuan biaya proyek  Best practice proses pemilihan supplier
4.    Best practice proses pembuatan desain proyek
5.    Best practice proses pengadaan barang
Berikut adalah hasil SOP best pratice tiap proses perencanaan proyek di PT LEN Railway System :
1.    Pada pembuatan WSB diusulkan dapat diaplikasikan oleh pelaku proyek dengan implementasi yang harus tercapai.
2.    Penentuan jadwal proyek yang dapat diaplikasikan oleh pelaku proyek.
3.    Penentuan biaya proyek yang dapat diaplikasikan oleh pelaku proyek.
4.    Pemilihan supplier  yang dapat diaplikasikan oleh pelaku proyek.
5.    Pembuatan desain proyek yang dapat diaplikasikan oleh pelaku proyek.
6.    Pengdaan barang  yang dapat diaplikasikan oleh pelaku proyek.